Kulit wajah
Sumber : cf.ltkcdn.net

DeveNews.com – Jakarta. Dilansir dari laman medicaldialy.com, mereka yang memiliki masalah jerawat cenderung turut memiliki stigma negatif terhadap kehidupan sosial karena kondisi kulit wajah tersebut.

Menurut salah satu studi terbaru dari University of Limerick di Irlandia berjudul “Stigma predicts health-related quality of life impairment, psychological distress, and somatic symptoms in acne sufferers” yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 28 September silam, 50 juta orang di Amerika memiliki masalah jerawat dan kulit wajah setiap tahunnya dan merupakan salah satu penyakit kulit paling umum yang diderita tiap orang dari berbagai lapisan umur hingga latar belakang di dunia, dengan level keparah jerawat bervariatif.

Lalu mengapa seseorang dengan kulit berjerawat memiliki persepsi buruk tentang kehidupan sosial ? jawabannya terletak pada bagaimana orang lain akan melihat diri mereka secara fisik. Ketidak-sempurnaan pada kulit wajah membuat seseorang menjadi lebih mudah minder, tidak percaya diri, stress hingga depresi. Beberapa bahkan juga turut merasakan gejala somatik seperti susah bernafas, sakit kepala, masalah pencernaan hingga insomnia.

Baca Juga : https://www.devenews.com/percantik-kulit-wajah-anda-dengan-5-masker-homemade-ini/

“ Banyak penderita jerawat yang merasakan adanya perbedaan perlakuan seseorang kepada mereka akibat kondisi kulit wajah bekas jerawat tersebut, sehingga penderita jerawat akan semakin menutup diri mereka dari dunia sosial dan merasa tertekan. Kehidupan sosial sendiri memiliki stigma yang tidak cukup ramah terhadap jerawat,” jelas Dr. Aisling O’Donnell dari UL Department of Psychology and Center for Social Issues. Semakin serius masalah jerawat seseorang,  semakin meningkat pula resiko mereka untuk mengalami tekanan secara psikologi dan emosional, terutama bagi kaum hawa.

“Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat masih memiliki pandangan negatif terhadap seseorang yang memiliki masalah kulit serius dengan jerawat, karena dianggap tidak menjaga/memerhatikan penampilan mereka. Sebagai hasilnya, mereka denga kondisi muka berjerawat menjadi trauma dan menghindari kegiatan-kegiatan sosial yang mengharuskan mereka tampil di publik,” tambah Dr. Aisling.

Faktor lain yang turut mempengaruhi fenomena ini adalah dengan adanya kemunculan media sosial yang memicu rasa minder terutama pada remaja masa kini. Foto-foto yang di upload di media sosial terutama foto selfie membuat orang-orang lebih memperhatikan penampilan wajah, sehingga jerawat dan bekasnya menjadi momok menakutkan bagi para remaja yang sedang berada dalam masa puber, walaupun hal tersebut adalah normal.

         “Like many physical attributes that are stigmatized, acne is not well represented in popular culture, advertising or social media,” jelas Jamie Daven selaku salah satu mahasiswa yang terlibat dalam studi ini bersama Dr. Aisling. Selain itu, Jamie juga menambahkan bahwa hal inilah yang membuat para penderita jerawat merasa bahwa diri mereka tidaklah normal, dan secara tidak sadar membandingkan diri mereka dengan seseorang yang memiliki kondisi kulit lebih baik. [][Bella Setiawati]]

Editor : Syarifah Shofi Muhaya