Kaki lotus
Sumber : Huffington Post

DeveNews.com – Jakarta.Kaki lotus di cina mungkin belum terdengar biasa ditelinga kita. Sejak dulu, demi kecantikan kaum wanita rela menjalani prosedur yang sangat menyakitkan. Salah satunya adalah tradisi foot binding atau ikat kaki di Cina, yang saat ini sudah dilarang untuk dilakukan karena dianggap tidak manusiawi. 

Kaki lotus sudah ada sejak abad ke-17 di Cina, tradisi ikat kaki yang dikenal sebagai “Kaki Lotus” ini sangat ekstrim dan luar biasa menyakitkan. Namun pada jaman dulu, para wanita justru sangat menginginkan bentuk kaki sekecil mungkin karena menunjukkan status sebagai keluarga berada.

Dilakukan sejak masih berusia sangat kecil (4-5 tahun), kaki anak gadis dibasuh dengan air hangat untuk melunakkan jaringan dan tulang di sekitar kaki. Setelah dipijat, setiap jari kaki kecuali bagian ibu jari akan dipatahkan dan diikat – dengan tujuan menghentikan pertumbuhan kaki. Proses ini biasanya dilakukan saat musim dingin ketika kaki dianggap terasa kebal akibat dinginnya udara. Namun tetap saja tidak membantu mengurangi rasa sakitnya.

Setelah proses pengikatan, membutuhkan waktu hingga 2-10 tahun agar bentuk kaki yang sudah rusak ini jadi permanen. Namun saat inilah para wanita Cina jaman dulu dianggap paling cantik dan menarik, terutama ketika akan mencari suami.

Wanita dengan kaki yang sangat kecil dianggap layak untuk mencari suami dari keluarga berada. Maka itulah kondisi ini biasanya dianggap sebagai keuntungan tersendiri terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin.

Wanita miskin yang setiap hari terpaksa harus bekerja di lapangan tidak akan menerima perawatan ikat kaki karena dianggap tidak layak menjadi wanita terhormat. Hal ini membuat para wanita miskin di jaman itu selamat dari praktek mengerikan tersebut dan tetap memiliki kaki normal hingga akhir hayatnya.

Baca Juga : https://www.devenews.com/pijat-kaki-gajah-devenews-com/

Pada tahun 1664, Kaisar Kangxi berusaha untuk melarang tradisi ikat kaki untuk dilanjutkan. Namun usaha ini gagal. Demikian juga pada tahun 1800-an, kelompok reformasi Cina berusaha menghentikan praktek ini namun gagal.

Baru setelah memasuki era abad ke-20, tradisi berbahaya ini semakin hilang dari masyarakat Cina dan bentuk kaki normal mulai dihargai apa adanya.

Ikat kaki mengakibatkan cacat permanen, dan juga penyakit infeksi kaki lain seperti gangrene hingga peredaran darah yang tidak sampai ke jari kaki. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi berat sehingga harus menjalani amputasi.

Para wanita Cina yang mengalami masa tradisi ikat kaki ini, hingga saat ini masih ada yang hidup dan selamat walaupun hidup dengan ‘penderitaan’ tersebut hingga akhir hayat mereka.[][Donna F]]

Editor : Shofi Muhaya