Sumber : cdn.vox-cdn.com

DeveNews.com-Jakarta. Memilih ayam ketika sedang berkunjung ke gerai cepat saji adalah salah satu hal lumrah. Ayam goreng, fillet ayam ataupun nugget ayam yang seringkali kamu beli di restoran cepat saji atau supermarket dengan cara penyajian instan ternyata tidak sepenuhnya terbuat dari daging ayam olahan. Dilansir dari mentalfloss.com, menurut investigasi yang dilakukan oleh CBC Marketplace di salah satu tv Kanada, 5 sample daging ayam cepat saji dari berbagai restoran diuji komposisinya oleh tim laboratorium dari Ontario University mendapat hasil yang cukup mengejutkan. Pasalnya, daging ayam tersebut ternyata memiliki protein yang sangat rendah dibanding daging ayam ‘asli’ yang dimasak langsung secara homemade.

            Sepotong daging ayam yang belum dibumbui umumnya mengandung 100% DNA unggas dan protein asli. Namun setelah ayam tersebut diolah menjadi ayam goreng ataupun panggang di restoran-restoran cepat saji, DNA dan protein tersebut akan menyusut secara drastis hingga ke level yang cukup berbahaya. Proses pembumbuan (marinating) ternyata juga berperan dalam menurunkan level DNA pada daging ayam / sapi.

Mayoritas restoran cepat saji yang menjual daging ayam maupun sapi memiliki presentase DNA normal 80%. Sayangnya, pengolahan yang masih salah di beberapa gerai fast food bahkan membuat kandungan DNA dalam daging tersebut hampir tidak ada. Peneliti yang menggunakan sample daging ayam dari restoran cepat saji Subway misalnya, menemukan bahwa kandungan DNA dalam fillet ayam pada salah satu menu hanya mencapai angka 42%, dan didominasi oleh presentasi kedelai yang cukup banyak dalam fillet tersebut.

Selain itu, pilihan ayam panggang dalam menu restoran cepat saji juga tidak kalah memprihatinkannya dengan ayam yang digoreng. Proses pengolahan tersebut juga menyebabkan level DNA dan protein pada daging berkurang jauh dibanding daging yang dimasak dengan gaya rumahan. Daging tersebut juga mengandung 10x lebih banyak sodium akibat proses pembumbuan.Menurut salah satu peneliti, hal ini juga dikarenakan beberapa supplier atau pemilik gerai cepat saji memang tidak menggunakan 100% daging ayam / sapi asli, melainkan menggunakan produk campuran lainnya untuk menghemat bahan baku seperti gula, tepung, dan lain sebagainya. Sample yang digunakan dalam studi pun menunjukkan bahwa sedikitnya ada 16 bahan campuran lain yang digunakan dalam daging di masing-masing sample. [][Bella Setiawati]]

Editor : Shofi Muhaya