Kuman terbanyak
Sumber : 1b058e7714d2d13876a1-aad8a0b816e372a2d5bdc4d902569b72.r62.cf1.rackcdn.com/XLGallery/1600x900_WonderfulDoubleQueen

DeveNews.com – Jakarta. Kuman terbanyak di dalam kamar hotel. Hotel adalah salah satu akomodasi penting saat berpergian agar kita tetap dapat beristirahat dengan nyaman selagi jauh dari rumah. Tidak peduli seberapa mewah dan mahal, ketika memesan kamar hotel, ada baiknya kamu mulai memahami bahwa ruangan yang akan kamu tinggali sementara tersebut pernah diisi oleh ratusan bahkan ribuan orang sebelumnya. It’s not news that previous guests leave germs behind, but you might be surprised to learn where those germs are lurking.

Kuman terbanyak di kamar hotel ada di beberapa tempat.  Dengan 14 hingga 16 ruangan yang harus dibersihkan setiap waktunya selama maksimal 30 menit di dalam sebuah hotel, staff kebersihan seringkali melupakan untuk membersihkan hal-hal dan sudut-sudut kecil yang luput dari penglihatan. Jika kamu memiliki masalah terhadap lemahnya sistem imun, maka bisa jadi bakteri dan kuman ini dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius di masa depan. Dilansir dari laman huffingtonpost.com, berikut 5 hal tak terduga yang ternyata menjadi sarang dari berbagai jenis bakteri dan kuman di dalam kamar hotel kita.

1. Remote TV

Salah satu hiburan yang disediakan oleh hotel di dalam kamar kita adalah televisi dengan berbagai pilihan saluran yang dapat menemani kita bersantai di dalam kamar hotel. But whatever you preference is, TV remote is likely gross. Ribuan tangan pernah menyentuh benda satu ini, dan mirisnya, benda kecil ini seringkali luput dibersihkan oleh staff kebersihan hotel. Menurut Jim Inglis selaku direktur program dari Valencia College of Hospitality, Orlando, menyatakan bahwa remote TV adalah benda terkotor nomor 1 yang bisa ditemukan dalam kamar hotel dengan jumlah bakteri yang berkali-kali lipat lebih banyak dibanding toilet.

2. Seprai dan Pelapis Bantal / Selimut

Mencuci seprai dan peralatan tidur lainnya bisa menjadi tidak bersih ketika para staff kebersihan hotel dihadapkan pada peak season seperti musim liburan, dimana setiap kamar harus siap sedia setiap saat. Saat kita tidur, tubuh melepaskan minyak dan kulit mati yang tidak disadari akan menempel pada seprai dan dapat berubah menjadi bakteri ketika menumpuk. Renata McCarthy selaku dosen dari Cornell University School of Hotel Administration, banyak hotel yang hanya membalik seprai dan peralatan tidur lainnya ketika jam-jam sibuk untuk menghemat waktu.

Baca Juga : https://www.devenews.com/5-tips-dan-trik-jitu-menjaga-kebersihan-kamar-tidur/

3. Gelas Minum

Banyak hotel yang sudah mulai menyediakan gelas plastik sekali pakai untuk tamu-tamunya saat menginap. But If your room includes glasses though, you might want to wipe them down before drinking from them, terutama gelas-gelas minum yang berada di dalam kamar mandi. Studi di tahun 2018 menemukan fakta bahwa menyiram toilet secara tidak langsung dapat mengkontaminasi peralatan mandi yang berada disekitarnya dengan bakteri dan kuman. Bahkan investigai yang dilakukan di tahun 2008 mengungkapkan bahwa 11 dari 15 hotel tidak mengganti atau mencuci kembali gelas kaca yang disediakan di dalam tiap-tiap kamarnya.

4. Tombol / Saklar Lampu

Bakteri dan kuma terbanyak juga ternyata ditemukan pada saklar lampu, terutama lampu meja yang seringkali berada di sisi kiri dan kanan ranjang hotel. Sama halnya seperti remote TV, saklar juga menjadi tempat ‘terkotor’ karena telah disentuh oleh ribuan tangan dan seringkali luput dibersihkan oleh staff hotel.

5. Handuk Mandi

Peneliti dari Univeristy of Houston menyatakan bahwa handuk juga menjadi sarang bakteri dan kuman terbanyak di dalam kamar hotel. Walaupun handuk yang sudah digunakan selalu dicuci, hal tersebut tidak menjamin bahwa handuk tersebut akan kembali 100% dalam keadaan benar-benar bersih dan steril, mengingat banyaknya handuk-handuk lain yang juga harus dicuci oleh staff hotel. Selain itu, perpindahan handuk dari kamar satu ke kamar yang lain juga semakin memudahkannya terkena bakteri. [][Bella Setiawati]]

Editor : Shofi Muhaya