Sumber : dingo.care2.com

DeveNews.com-Jakarta. Mengapa membuat keputusan adalah hal yang sulit bagi banyak orang?, tim peneliti asal Kanada dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin menemukan adanya kesamaan faktor stress pada kebanyakan orang, yakni proses dalam membuat dan mengambil sebuah keputusan. Tidak hanya itu, perasaan menyesal yang ditimbulkan setelah membuat sebuah pilihan ditakuti oleh banyak orang, terutama jika opsi yang mereka pilih ternyata bukan merupakan opsi yang tepat. Kondisi ketakutan ini disebut juga sebagai FOBO (Fear of Better Option) dalam mengambil keputusan. Mengapa membuat keputusan adalah hal yang sulit bagi banyak orang?

Ahli psikologi Jeffery Hughes dan Abigail A. Scholer dari University of Waterloo membagi beberapa karakter orang berdasarkan cara mereka memutuskan suatu pilihan. Tipe maximizer misalnya adalah seseorang yang mencari tahu dan menimbang segala kemungkinan yang akan terjadi dari suatu pilihan sebelum pilihan tersebut ditentukan. “Intinya, seseorang dengan tipe ini tidak akan mengambil keputusan apapun sebelum dirinya menghitung untung rugi dari keputusan tersebut terhadap dirinya,” jelas Jeffery. Oleh karena itu, orang-orang dengan tipe maximize seringkali rentan terhadap stress dalam menentukan suatu pilihan.

Dilansir dari mentalfloss.com, bagi mereka dengan tipe maximizer, setiap pilihan yang mereka buat haruslah memiliki efek menguntungkan secara individual baik dalam segi sosial maupun finansial. These folks are generally able to make a choice and move on. Di sisi lain, seorang maximizer akan merasa sangat kesulitan dalam melepaskan pilihan lain yang tidak mereka pilih, dan berakhir dengan rasa penasaran / obsesif terhadap pilihan yang sudah ditolak tersebut.

Setiap pilihan memiliki pro dan kontranya masing-masing. Hal inilah yang berusaha di minimalisir oleh seorang maximizer, oleh karena itu mereka memerlukan waktu lebih lama dalam memutuskan suatu pilihan terutama pilihan-pilihan penting. “ But it can also lead people to get locked into a state where they keep evaluating and re-evaluating without making any decision,” tambah Jeffery.

Baca Juga : Stress Ternyata Menjadi Faktor Utama Penyebab Obesitas Pada Wanita !

Dibanding berfokus terhadap pilihan-pilihan yang telah dievaluasi, maximizer hanya akan terus menambah pilihan tersebut hingga proses pembuatan keputusan akan berlangsung semakin lama dan berlarut-larut. Hal ini akan membuat seorang maximizer merasa semakin depresi dan frustasi. “ Jika kamu sering merasa menyesal dan depresi setelah membuat suatu keputusan, maka hal tersebut akan berujung pada menurunnya kualitas hidupmu,” jelas Jefferey.

Jeffery yakin bahwa solusi terbaik yang dapat dilakukan oleh seorang maximizer dalam menentukan keputusan adalah mengenali keputusan tersebut secara lebih baik dibanding memikirkan dampak-dampak negatifnya secara berlebihan. “Overthingking is the enemy of satisfactiory conclusion. Try to trust your gut when you look at an option and feel like it’s not a good one.” Selain itu, Abigail juga menambahkan bahwa menerapkan batasan-batasan dalam membuat suatu keputusan juga dapat membantu seseorang menentukan keputusan yang lebih baik. “It’s all about recognizing the value of your time and energy. Sebagai contoh, batasi dirimu bahwa kamu hanya akan menghabiskan 30 menit untuk memutuskan destinasi liburanmu selanjutnya. I’m buying the best one and moving on. Your time is also a cost, so why not spend that time on decisions that are most important to you ? ” [][Bella Setiawati]]

Editor : Shofi Muhaya