Wanita beresiko
Sumber : neuropain.com

DeveNews.com – Jakarta. Wanita beresiko Migrain lebih tinggi dari pria. Migrain adalah salah satu misteri yang bahkan masih belum sepenuhnya dapat dipahami dalam dunia kesehatan, baik penyebab maupun penyembuhannya.

           Dilansir dari laman mentalfloss.com, peneliti mengungkapkan beberapa fakta terkait penyakit kepala satu ini, terutama mengenai penyebab kenapa migrain beresiko dialami kaum hawa dibanding pria. Hal ini disebabkan karena hormon estrogen yang seringkali tidak seimbang pada wanita.

Migrain adalah penyakit ketiga yang paling sering diderita oleh orang-orang kebanyakan di dunia. Lebih dari 1 orang diantara 10 yang pasti pernah mengalami penyakit satu ini. 75% dari mayoritas tersebut berasal dari kaum hawa, terbukti wanita beresiko migraine lebih besar disbanding pria. Dimana migrain dapat menyerang wanita dalam frekuensi yang lebih intens dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh dibanding pria.

Menurut sebuah studi yang dilakukan di San Diego, Emily Galloway selaku peneliti mengungkapkan beberapa fakta terkait hubungan antara protein NHE1 sebagai penyebab migrain. NHE1 sendiri merupakan protein yang berguna untuk mentransfer proton dan ion sodium ke dalam membrane sel, termasuk membran yang memisahkan peredaran darah pada otak.

Baca Juga : https://www.devenews.com/stress-ternyata-menjadi-faktor-utama-penyebab-obesitas-pada-wanita/

Ketika level NHE1 rendah, maka molekul tidak akan bekerja dengan maksimal sehingga dapat menimbulkan migrain. NHE1 yang tidak stabil juga akan mengganggu perpindahan proton dan ion sodium ke dalam jaringan otak sehingga ketika migrain, meminum obat-obatan penahan rasa sakit seringkali tidak memiliki efek yang positif karena painkiller juga dapat turut memblok sirkulasi tersebut. This may explain why the condition is so hard to treat.

            Ketika para peneliti menganalisa level protein NHE1 di dalam otak wanita dan pria, peneliti menemukan bahwa level protein tersebut empat kali jauh lebih tinggi di dalam otak pria dibanding wanita. Selain itu, walaupun level hormon estrogen lebih tinggi pada wanita, wanita memiliki protein NHE1 yang rendah di bagian otak. “Meneliti mekanisme molekular dibalik penyebab migrain adalah langkah awal dalam dunia kesehatan untuk mencari pengobatan dan terapi yang tepat dalam mengatasi penyakit ini dengan lebih efektif, baik untuk wanita maupun pria,” jelas Emily.

Emily juga menambahkan bahwa dirinya dan tim peneliti akan kembali melakukan pengembangan studi terkait pemetaan molekul dan hubungannya terhadap hormon seks dan protein NHE1 pada pria maupun wanita. Setelah itu, tim akan mengembangkan pengobatan yang dapat meregulasi hormon tersebut dan efeknya dalam menjaga keseimbangan protein NHE1 pada otak.[][Bella Setiawati]]

Editor : Shofi Muhaya